Thursday, March 16, 2017

sejarah dan pergerakan mahasiswa



14/Medan- Dalam menyambut Hari lahirnya organisasi mahasiswa keislaman yang dikenal dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), seorang aktivis mahasiswa menulis pandangannya di laman facebooknya (Ikwal pasaribu). Sekretaris umum Dewan pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Utara yang juga mantan ketua umum Pk.IMM FKIP UMSU ini dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah yang tidak pro kepada rakyat, berikut dikutip awrtimes.blogspot.com Dari akun Facebook Sekretaris Umum DPD IMM Sumut :

"Secara kebahasaan, kata Era memberikan arti kurun waktu dalam sejarah, masa, sejumlah tahun dalam jangka waktu antara beberapa peristiwa penting dalam sejarah, yang intinya adalah menunjukkan suatu waktu atau masa yang didalamnya terdapat peristiwa penting(baca;Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Sejak awal sebelum berdirinya NKRI sebagai sebuah negara yang berdaulat ada sebuah pergerakan kemerdekaan yang dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa. Nama-nama yang sangat populer seperti K.H.Ahmad Dahlan(Pendiri Muhammadiyah), bung Karno, bung Hatta, bung Sultan Syahrir-yang bergerak dalam ranah nasionalis agamis-yang kini jasa-jasa perjuangan mereka dikenang oleh segenap bangsa indonesia.
Dahulu mereka bergerak bukan tanpa rasa takut dan was-was, bahkan darah sudah mereka siap tumpahkan agar rakyat indonesia merdeka, terlepasa dari siksaan kolonial belanda yang kala itu sungguh membuat penderitaan berkepanjangan, kurang lebih 350 tahun lamanya.
Setiap era rezim selalu memberikan cela dan lubang besar yang menurut mahasiswa harus ditambal dengan berbagai metode aksi-aksi, demonstrasi misalnya. Hingga era rezim jokowi-jk pun masih ada-walaupun hanya sebahagian-sekelompok mahasiswa yang berkomitmen memegangteguh janji dan sumpahnya untuk senantiasa mengabdi pada bangsa,rakyat indonesia, melalui poros demonstrasi sebagai respon atas suatu gejala-gejala politik, hukum, sosial bahkan ekonomi kerakyatan.
Isu-isu politik, sosial dan ekonomi jadi sorotan serius mahasiswa. Gelombang pergerakan kemahasiswaan belakangan tidak menampakkan dirinya sebagai agent of change. Manifestasi dari ideologi pergerakan hari ini tidak memberikan solusi konkrit, sebab wajah peta politik elit baik ditingkat nasional maupun regional sudah di”operasi plastik”.
Bukan tanpa alasan mereka merubah pola politik untuk melanggengkan kekuasaannya, itu tidak lain dikarenakan dinamika yang dilakukan oleh mahasiswa stagnan dan jika mereka juga sama, artinya mereka akan menerima nasib seperti para pendahulunya yang lengser oleh ulah mahasiswa.
Restorasi ideologi pergerakan mahasiswa sangat penting dilakukan jika ingin “mengimbangi” pemerintah.
Problemnya adalah mahasiswa belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri untuk kepentingan bangsa dan negara hanya karena prakmatisme individu perindividu saja. Sudah jadi rahasia umum, bahwa pada era jokowi-jk kedekatan mahasiswa dengan partai politik sangat “mesrah”.
Padahal harusnya mahasiswa menjaga independensi dan ideologinya bukan malah “dijual” kepada kekuasaan dan uang.
Jika pergerakan sudah diintervensi oleh kekuasaan maka kehancuran didepan hidungmu. Tercium bau busuk sangat dekat di hidung tapi apalah daya sampah-sampah yang berserak dijalanan tidak dipungut, dibakar, dimusnahkan atau didaur ulang.
Negeri ini sebenarnya memerlukan super obat yang bisa secara praktis dapat menyembuhkan, tidak penting apakah kedepannya terjadi overdosis akan tetapi setidaknya perut rakyat dan negara selamat dari “kematian”.
Penghayatan atas Pancasila, UUD 45’ serta pengorbanan para pejuang bangsa ini sepertinya luntur dari hati sanubari mahasiswa. Pertanyaannya adalah bagaimana cara upaya yang harus ditempuh untuk dapat menyatukan faksi-faksi mahasiswa agar melebur pada satu gerakan nasional."

No comments:

Post a Comment